Minggu, 13 Juni 2010

Remaja dan Ciri-Cirinya

Pengertian Remaja

Remaja dalam pengertian umum diartikan masa baliq atau keterbukaan terhadap lawan jenis. Konsep ini tidak jauh berbeda dengan Poerwadarminta (1984: 813) yang menyatakan remaja adalah: (1) Mulai dewasa; sudah sampai umur untuk kawin, (2) Muda (tentang anak laki-laki dan perempuan); mulai muncul rasa cinta birahi meskipun konsep ini kelihatan sederhana tetapi setidaknya menggambarkan sebagaian dari pengertian remaja.

Batasan remaja menurut Drajat (1989: 69) yaitu masa pemilihan yang ditempuh oleh seorang dari mana anak-anak menjadi dewasa. Dengan arti lain sebuah situasi yang menjembatangi menuju ke tingkat dewasa. Masa remaja ini berlansung kira-kira 13 tahun sampai 16 tahun atau 17 tahun. Akhir masa remaja antara usia 16 sampai 18 tahun yang oleh Drajat (1989: 75). Dikatakan masa usia matang secara hukum pada masa ini remaja sangat ingin dihargai kehadirannya oleh orang sekitarnya.

Pendapat yang tidak jauh berbeda juga dikemukakan oleh Suardi (1986: 98) yang menyatakan remaja adalah masa perantara dari masa anak-anak menuju dewasa yang bersifat kompleks, menyita banyak perhatian dari remaja itu sendiri dengan orang lain, dan masa penyesuaian diri terdidik. Selain itu, masa ini juga adalah masa konflik, terutama konflik remaja dengan dirinya sendiri dengan remaja yang lain sehingga membutuhkan penanganan khusus yang menuntut tanggung jawab paripurna.

Beberapa defenisi remaja di atas dapat disimpulkan bahwa remaja adalah suatu masa atau periode menuju tahap dewasa yang ditandai dengan umur berkisar antara 13-18 tahun, mulai tertarik kepada lawan jenis, dan memiliki permasalahan yang kompleks. Guna kelengkapan pengertian remaja dapat dilihat pada ciri-ciri remaja dalam berbagai sudut pandang berikut ini :

Ciri-Ciri Remaja

Mengenai ciri-ciri remaja tidak mesti dilihat dari satu sisi, tetapi dapat dilihat dari berbagai segi. Misalnya dari segi usia, perkembangan fisik, phisikis, dan perilaku. Menurut Gayo (1990: 638-639) ciri-ciri remaja usianya berkisar 12-20 tahun yang dibagi dalam tiga fase yaitu; Adolensi diri, adolensi menengah, dan adolensi akhir. Penjelasan ketiga fase ini sebagai berikut.

1). Adolensi dini

Fase ini berarti preokupasi seksual yang meninggi yang tidak jarang menurunkan daya kreatif/ ketekunan, mulai renggang dengan orang tuanya dan membentuk kelompok kawan atau sahabat karib, tinggah laku kurang dapat dipertanggungjawabkan. Seperti perilaku di luar kebiasaan, delikuen,dan maniakal atau defresif.

2). Adolensi menengah

Fase ini memiliki umum: Hubungan dengan kawan dari lawan jenis mulai meningkat pentingnya, fantasi dan fanatisme terhadap berbagai aliran, misalnya, mistik, musik, dan lain-lain. Menduduki tempat yang kuat dalam perioritasnya, politik dan kebudayaan mulai menyita perhatiannya sehingga kritik…..tidak jarang dilontarkan kepada keluarga dan masyarakat yang dianggap salah dan tidak benar, seksualitas mulai tampak dalam ruang atau skala identifikasi, dan desploritas lebih terarah untuk meminta bantuan.

3). Adolesensi akhir

Masa ini remaja mulai lebih luas, mantap, dari dewasa dalam ruang lingkup penghayatannya .Ia lebih bersifat ‘menerima’dan ‘mengerti’ malahan sudah mulai menghargai sikap orang/pihak lain yang mungkin sebelumnya ditolak. Memiliki karier tertentu dan sikap kedudukan, kultural, politik, maupun etikanya lebih mendekati orang tuanya. Bila kondisinya kurang menguntungkan, maka masa turut diperpanjang dengan konsekuensi .imitasi, bosan, dan merosot tahap kesulitan jiwanya. Memerlukan bimbingan dengan baik dan bijaksana, dari orang-orang di sekitarnya.

Argumen lain tentang ciri-ciri remaja dan berbagai sudut pandang dikemukakan oleh Mustaqim dan Abdul Wahid (1991:49-50). Menurutnya pada masa remaja umumnya telah duduk dalam bangku sekolah lanjutan. Pada permulaan periode anak mengalami perubahan-perubahan jasmani yang berwujud tanda-tanda kelamin sekunder seperti kumis, jenggot, atau suara berubah pada laki-laki. Lengan dan kaki mengalami pertumbuhan yang cepat sekali sehingga anak-anak menjadi canggung dan kaku. Kelenjar-kelenjar mulai tumbuh yang dapat menimbulkan gangguan phisikis anak.

Perubahan rohani juga timbul remaja telah mulai berfikir abstrak, ingatan logis makin lama makin lemah. Pertumbuhan fungsi-fungsi psikis yang satu dengan yang lain tidak dalam keadaan seimbang akibatnya anak sering mengalami pertentangan batin dan gangguan, yang biasa disebut gangguan integrasi. Kehidupan sosial anak remaja juga berkembang sangat luas. Akibatnya anak berusaha melepaskan diri darikekangan orang tua untuk mendapatkan kebebasan, meskipun di sisi lain masih tergantung pada orang tua. Dengan demikian terjadi pertentangan antara hasrat kebebasan dan perasaan tergantung. (Mustaqim dan Abdul Wahid, 1991:50).

Lebih lanjut dikatakan Mustaqim dan Abdul Wahid, pada masa remaja akhir umumnya telah mulai menemukan nilai-nilai hidup, cinta, persahabatan, agama, kesusilaan, kebenaran dan kebaikan. Masa ini biasa disebut masa pembentukan dan menentuan nilai dan cita-cita.Lain dari pada itu anak mulai berfikir tentang tanggung jawab sosial, agama moral, anak mulai berpandangan realistik, mulai mengarahkan perhatian pada teman hidupnya kelak, kematangan jasmani dan rohani, memiliki keyakinan dan pendirian yang tetap serta berusaha mengabdikan diri dimasyarakat juga ciri remaja yang menonjol, tetapi hanya remaja yang sudah hampir masuk dewasa.

Perkembangan Remaja dan Aspek-Aspeknya

Perkembangan Fisik

Perkembangan fisik sudah di mulai pada masa praremaja dan terjadi cepat pada masa remaja awal yang akan makin sempurna pada masa remaja pertengahan dan remaja akhir. Cole (dalam monks, 2002:16) berpendapat bahwa perkembangan fisik merupakan dasar dari perkembangan aspek lain yang mencakup perkembangan psikis dan sosialis. Artinya jika perkembangan fisik berjalan secara baik dan lancar, maka perkembangan psikis dan sosial juga akan lancar. Jika perkembangan fisik terhambat sulit untuk mendapat tempat yang wajar dalam kehidupan masyarakat dewasa.

Perkembangan Kognitif Remaja

Perkembangan kognitif remaja menurut Piaget (dalam Elisabet,1999:117) menjelaskan bahwa selama tahap operasi formal yang terjadi sekiyar usia 11-15 tahun. Seorang anak mengalami perkembangan penalaran dan kemampuan berfikir untuk memecahkan persoalan yang dihadapinya berdasarkan pengalaman langsung. Struktur kognitif anak mencapai pematangan pada tahap ini. Potensi kualitas penalaran dan berfikir (reasoning dan thinking) berkembang secara maksimum. Setelah potensi perkembangan maksimum ini terjadi, seorang anak tidak lagi mengalami perbaikan struktural dalam kualitas penalaran pada tahap perkembangan selanjutnya.

Remaja yang sudah mencapai perkembangan operasi formal secara maksimum mempunyai kelengkapan struktural kognitif sebagai mana halnya orang dewasa. Namun, hal itu tidak berarti bahwa pemikiran (thinking) remaja dengan penalaran formal (formal reasoning) sama baiknya dengan pemikiran aktual orang dewasa karena hanya secara potensial sudah tercapai.

Perkembangan Emosi Remaja

Emosi merupakan salah satu aspek psikologis manusia dalam ranah efektif. Aspek psikologis ini sangat berperan penting dalam kehidupan manusia pada umumnya, dan dalam hubungannya dengan orang lain pada khususnya. Keseimbangan antar ketiga ranah psikologis sangat di butuhkan sehingga manusia dapat berfungsi dengan tepat sesuai dengan stimulus yang di hadapinya.

Prawitasari (dalam Zailani, 1887:85) mengembangkan alat pengungkap emosi dasar manusia berupa foto-foto sebagai ekspresi wajah dari berbagai model dasar manusia yaitu : senang, sedih, terkejut, jijik, marah, takut dan malu.

Pada masa remaja, ekspresi emosi yang nampak kadang-kadang tidak mengembangkan kondisi emosi yang sebenarnya, misalnya orang yang marah seribu bahasa. Ekspresi emosi sifatnya sangat individual atau subjektif, tergantung pada kondisi pribadi masing-masing orang.

Manifestasi emosi yang sering muncul pada remaja termasuk higtened emotionality atau meningkatkan emosi yaitu kondisi emosinya berbeda dengan keadaan sebelumnya. Ekspresi meningkatnya emosi ini dapat berupa sikap binggung, emosi meledak-ledak, suka berkelahi, tidak ada nafsu makan, tidak punya gairah apapun, atau mungkin sebaliknya melarikan diri membaca buku. Di samping kondisi emosi yang meningkat, juga masih dijumpai beberapa emosi yang menonjol pada remaja termasuk khawatir, cemas, jengkel, frustasi cemburu, iri, rasa ingin tahu, dan afeksi, atau rasa kasih sayang dan perasaan bahagia.

PERAN ORANG TUA DALAM PENDIDIKAN KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA

Oleh : Sri Astuti Handayani, S.Psi

Saat ini banyak remaja yang belum paham dan mengerti secara mendalam tentang Kesehatan Reproduksi Remaja, sehingga sering terjadi permasalahan remaja yang berkaitan dengan soal seks, seperti aborsi, penyakit menular seksual (PMS), perilaku seksual yang menyimpang bahkan tidak sedikit terjadi kehamilan yang tidak di inginkan.
Kesehatan reproduksi remaja di artikan sebagai suatu kondisi sehat yang tidak hanya berarti bebas dari penyakit dan kecacatan akan tetapi lebih dari itu, termasuk sehat secara mental dan sosial berkaitan dengan sistem, fungsi dan proses reproduksi. Orang tua sangat berperan penting dalam memberikan pendidikan kesehatan reproduksi kepada remaja. Jika orang tua tidak menjadi sumber informasi yang bersahabat bagi remaja, maka remaja akan cenderung mencari tahu lewat sumber-sumber informasi seksual yang menyesatkan seperti film-film porno, majalah, komik atau ke teman-temannya.
Menurut Reinnisch (1990) Direktur Kinsey Institute for Sex, Gender, and Reproduction, Amerika Serikat, kita di banjiri pesan-pesan seksual, tetapi tidak dengan fakta-fakta seksual. Informasi seksual berlimpah, tetapi banyak dari informasi itu salah. Remaja mendapat informasi tentang seks sebagai sesuatu yang menyenangkan, tidak berbahaya, dewasa dan terlarang. Remaja usia 13 tahun hingga 21 tahun ingin mencoba sesuatu yang baru dan mengambil resiko. Mereka melihat diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan tidak mungkin mengalami kehamilan walau melakukan hubungan pra nikah.
Permasalahanya orang tua cenderung membatasi perbincangan mengenai kesehatan reproduksi ini, menganggap sebagai hal tabu yang tidak pantas di bicarakan. Atau orang tua sendiri juga tidak siap memberikan pendidikan kesehatan reproduksi ini kepada anak-anaknya. Apakah anak anda mulai bertanya “ dari mana bayi berasal?”. Tetapi Anda sebagai orang tua tidak bisa menjawab karena malu. Bayangkan! Jika ini di dengar oleh orang tua yang berada di Kairo atau Karachi. Mendengar tentang ini mereka mungkin tercengang dan mempertanyakan keahlian Anda menjadi orang tua!.

1. Mulai Sejak Dini
Idealnya pendididkan kesehatan reproduksi tidak diberikan kepada anak-anak sebagai reaksi atas pertanyaan mereka. Sebaliknya, pendidikan kesehatan reproduksi di berikan sejak awal secara tidak langsung. Anak harus memiliki keyakinan yang kuat akan identitas dirinya serta pemahaman akan nilai-nilai yang di milikinya. Artinya ketika anak mulai sadar akan perbedaan jenis kelamin, sadar bahwa mereka perempuan atau laki-laki dengan organ reproduksi yang berbeda, mereka mulai di beri pemahaman akan identitasnya tersebut, serta nilai-nilai yang menyertai identitas ini. Sebagai contoh : “Anak tahu ia perempuan, kenalkan batas auratnya yang berbeda dengan bapak atau saudara laki-lakinya”. Jadi, ketika saatnya nanti Anak mulai “wajib” menutup aurat, ia tinggal menjalankan saja.
Orang tua harus duduk bersama dan menjelaskan nilai-nilai mereka kepada anak-anak. Hal tersebut perlu di mulai sejak anak-anak masih muda, sebelum masyarakat mempengaruhi mereka. Penting juga untuk menjelaskan kepada anak-anak, mengapa orang tua tidak memegang nilai-nilai tersebut. Sebagai contoh, mengapa orang tua tidak menyetujui hubungan seks di luar pernikahan, baik karena alasan agama dan/atau kesehatan.

2. Berikan Pendidikan Kesehatan Reproduksi Sesuai Dengan Usia Anak
Mulai mengajarkan topik yang berbeda pada usia yang tepat juga penting. Sebagai contoh, seorang anak yang berusia delapan tahun mungkin melihat bahwa ibunya tidak sholat selama beberapa hari dalam sebulan dan bertanya mengapa. Saat itulah, secara sederhana dapat kita sampaikan bahwa saat itu Allah mengijinkan kaum perempuan untuk tidak sholat. Saat anak berusia 12-13 tahun, orang tua dapat memperkenalkan topik tentang menstruasi, dan pada saat itu, barulah dia mampu melihat hubungannya. Jika ia perempuan, ajarkan juga apa saja yang harus dia lakukan ketika menstruasi di tinjau dari sisi kesehatan.
Cara lain untuk memperkenalkan topik tentang kesehatan reproduksi adalah pada saat anak mulai mengaji/membaca Al Qur’an. Ketika anak membaca ayat-ayat tentang hubungan seks, menstruasi, atau homoseksual sebagai contoh, hal tersebut dapat di jelaskan dengan sebenarnya.
Kesehatan reproduksi dapat juga di bahas dalam konteks kebersihan menurut ajaran Islam pada usia tertentu. Contohnya ketika anak berusia enam atau tujuh tahun, dia harus tahu bagaimana membersihan dirinya setelah menggunakan toilet. Kemudian ketika berusia sebelas atau dua belas tahun, masalah tentang mandi wajib bisa di angkat dan bila di perlukan (misalnya setelah berhubungan suami istri, setelah selesai menstruasi, setelah mendapat mimpi basah, dll)
Orang tua sebaiknya mendatangi anak-anaknya secara perorangan, bukan berkumpul semua dalam menjelaskan berbagai topik yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi sesuai usia anak. Beberapa topik yang bisa di bahas mencakup kerendahan hati, kesopanan, sikap dan perilaku. Tetapi hal tersebut sebaiknya tidak di sampaikan sebagai sejumlah peraturan yang harus di patuhi, melainkan kebajikan yang mendasarinya, sebagai contoh taat cara berpakaian menurut Islam dan tidak memandang lawan jenis terlalu lama, perlu di jelaskan dengan alasan/kebajikan yang mendasarinya.

3. Orangtua Sebaiknya Menciptakan Hubungan yang Baik dengan Anak
Pendidikan kesehatan reproduksi yang benar hanya dapat di berikan jika pesan yang benar di sampaikan oleh orang tua secara terbuka dan tersirat, serta menyampaikanya dengan cinta. Harus ada keterbukaan, bukan suasana kaku dan dogmatik di rumah.

4. Orang tua sebagai Contoh dan Suri Tauladan
Cara terbaik untuk menyampaikan nilai-nilai kepada anak-anak adalah dengan menjadi “role model” (contoh atau teladan). Hal tersebut berarti anak tidak hanya perlu mengetahui tentang hubungan pria perempuan yang sehat ketika mereka melihat orangtuanya, tetapi orangtua juga tidak terlibat dalam kegiatan yang merendahkan pandangan mereka terhadap seksualitas. Sebagai contoh orangtua berhati-hati memilih tontonan buat mereka sendiri, karena ini merupakan pengaruh buruk bagi anak-anak. Jika orang tuanya saja menonton film biru, tentu anak-anak akan mengikutinya.
Hal ini juga berarti memberikan contoh dalam segala aspek kehidupan dengan mematuhi peraturan yang sama yang orang tua ingin mereka patuhi. Sebagai contoh, jika orang tua terlambat, hubungi anak-anak dan beritahukan kepada mereka, tunjukan rasa hormat yang sama sebagaimana orang tua harapkan dari anak-anak.

5. Anak Bertemu dengan Orang Lain yang Memiliki Nilai-Nilai yang Sama
Anak-anak tidak hanya perlu melihat penerapan nila-nilai kebaikan di rumah. Mereka juga harus mengalaminya ketika berhubungan dengan anak-anak lain maupun keluarga yang memiliki nilai-nilai yang sama. Mereka harus melihat bahwa kehidupan berkeluarga secara Islami bukan hanya sesuatu yang dipraktekan di rumah mereka saja, tetapi juga di praktekan oleh orang lain.
Hal ini mebuat anak merasa lebih “normal”, dimana dia mungkin memiliki teman sekolah atau kenalan yang memiliki orangtua homoseksual (dua ibu atau dua ayah), orangtua yang melakukan hubungan seks di luar pernikahan (kekasih si ibu atau kekasih si ayah) atau jenis-jenis hubungan lain yang tidak dapat di terima.

6. Libatkan Diri dengan Sekolah dimana Anak belajar
Seringkali sekolah mendorong orang tua untuk aktiv berpartisipasi melalui berbagai jalur seperti Persatuan Orangtua Murid dan Guru ( POMG) atau sebagai dewan sekolah yang di tunjuk.
Tetapi jika ini terlalu banyak memerlukan komitmen sebagai orang tua, paling tidak usahakan untuk selalu berhubungan dengan guru yang mengajar anak-anak, dan beritahu guru tersebut bukan hanya masalah, tetapi juga hal-hal baik yang telah dia ajarkan kepada anak-anak. Ada sebuah program menarik yang awalnya di adopsi dari sekolah-sekolah barat, sekarang mulai di lakukan di beberapa sekolah unggulan di Indonesia, yaitu program “ a Lunchroom Program” dengan orangtua sebagai pemantau, yang hanya memakan waktu beberapa jam sekali sepekan.
Partisipasi teratur dalam organisasi maupun kegiatan sekolah seperti itu memberikan orang tua kesempatan untuk menyuarakan pandangan selaku orang tua tentang apa yang terjadi dalam sistem sekolah yang mempengaruhi anak-anak kita, serta anak-anak lainya. Dengan berpartisipasi dalam jangka waktu lama, suara orang tua akan lebih mungkin di dengar karena orang tua terlibat dalam membuat sekolah tersebut menjadi lebih baik secara umum, bukan hanya untuk kepentingan anak Anda.

7. Tahu Batas Pendidikan Kesehatan Reproduksi
Kita harus tahu kurikulum pendidikan kesehatan reproduksi pra remaja itu apa saja dengan mengaitkan dengan nilai-nilai yang sudah di ajarkan oleh sekolah selama ini.

8. Mengatahui Sudut Pandang Islam Tentang Seks
Ada banyak topik dalam pendidikan kesehatan reproduksi selain mengatakan kepada putra putri “Jangan melakukannya sampai kamu menikah”. Topik-topik seperti menstruasi, perubahan seksual pada remaja, kesucian diri menurut Islam juga perlu di bahas. Kita juga harus bisa memberikan referensi yang tepat dari Al Qur’an dan As Sunnah mengenai topik-topik yang relevan (misalnya pengaturan jarak kelahiran, hubungan anak lelaki dan anak perempuan, dll).

9. Orang tua sebagai Sumber Utama Pendidikan Kesehatan Reproduksi
Anak bisa jadi mendapatkan informasi tentang kesehatan reproduksi dan masalah seks dari sumber lain seperti televisi, film, sekolah dan teman-teman, akan tetapi Andalah “sumber yang berwenang”. Tempatkan diri Anda dalam posisi utama ini. Hal ini akan lebih efektif di mulai ketika anak berusia sekolah dasar, di bandingkan menunggu anak berusia remaja, yang biasanya mulai memberontak dan tidak mau mendengar orang tua.
Memang sulit bagi orang tua berbicara seks pada remaja, dengan posisi sumber utama tersebut. Tetapi biarkan saja, karena ini menunjukan keseriusan dan pentingnya hal yang akan Anda katakan. Jalan terakhir jika Anda merasa sangat tidak nyaman membicarakan seks, mintalah orang lain, ahli atau anggota masyarakat untuk memberikan penjelasan atau anggota keluarga lain yang di percaya. Namun demikian meminta seseorang untuk berbicara kepada remaja atau memberikan buku bukanlah akhir cerita. Sebagai orang tua, kita harus siap dan terbuka terhadap pertanyaan remaja tentang seks, sehingga orangtua bisa mengarahkan remaja kepada orang atau informasi yang tepat jika orangtua merasa tidak nyaman untuk menjawabnya.
Untuk mengatasi persoalan kesehatan reproduksi remaja, pemerintah melalui BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) menyediakan akses informasi yang luas, baik kepada remaja maupun kepada orang tua melalui Pusat Informasi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja (PIK-KRR). Pada PIK-KRR ini, remaja maupun orangtua dapat memperoleh informasi yang berkaitan dengan TRIAD KRR yaitu seksualitas, Narkoba, HIV dan AIDS. PIK KRR tersebar di beberapa sekolah, pondok pesantren di wilayah Nusa Tenggara Barat. BKKBN mengajak berbagai komponen masyarakat ikut mensosialisasikan dan mengoptimalkan keberadaan PIK KRR di lingkungannya.

PENDIDIKAN KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA: BAGAIMANA MENYIKAPINYA?

Oleh : dr. Siti Nurul Muzayyanah

halalsehat.com Remaja didefinisikan sebagai masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Batasan usia remaja menurut WHO (World Health Organization, badan PBB untuk kesehatan dunia) adalah 12 sampai 24 tahun. Hampir semua remaja dibelahan bumi manapun, sekarang berada dalam situasi yang penuh godaan dan ujian. Perkembangan teknologi komunikasi telah menyebarkan berbagai informasi, hiburan, dan budaya. Keadaan ini tidak mungkin dibendung hanya dengan mengurung anak dirumah atau menyediakan berbagai fasilitas canggih di rumah. Karena kehidupan menuntut mereka untuk tampil luwes dan lebih bergaul dengan dunia luar. Itulah yang mendorong mereka lebih menyukai berbagai kegiatan di luar rumah seperti ke diskotik, kegiatan ekstra sekolah, berwisata, berkemah atau sekedar jalan-jalan ke maal.


Remaja Dipersimpangan jalan
Remaja merupakan bagian fase kehidupan manusia dengan karakter khasnya yang penuh gejolak. Perkembangan emosi yang belum stabil dan bekal hidup yang masih perlu dipupuk menjadikan remaja lebih rentan mengalami gejolak sosial. Diakui atau tidak, fakta telah menjelaskan keteledoran orang tua dan pendidik dalam mengarahkan dan membimbing anaknya berkontribusi meningkatkan problem-problem sosial dan kriminal.

Dampak pergaulan bebas remaja mengantarkan pada kegiatan tuna sosial di masyarakat. Beberapa penelitian menunjukkan, remaja putra maupun putri pernah berhubungan seksual. Di antara mereka yang kemudian hamil pranikah mengaku taat beribadah. Penelitian di Jakarta tahun 1984 menunjukkan 57,3 persen remaja putri yang hamil pranikah mengaku taat beribadah. Penelitian di Bali tahun 1989 menyebutkan, 50 persen wanita yang datang di suatu klinik untuk mendapatkan induksi haid berusia 15-20 tahun. Menurut Prof. Wimpie, induksi haid adalah nama lain untuk aborsi. Sebagai catatan, kejadian aborsi di Indonesia per tahun cukup tinggi yaitu 2,3 juta per tahun. “ Dan 20 persen di antaranya remaja,” kata Guru Besar FK Universitas Udayana, Bali ini.

Penelitian di Bandung tahun 1991 menunjukkan dari pelajar SMP, 10,53 persen pernah melakukan ciuman bibir, 5,6 persen melakukan ciuman dalam, dan 3,86 persen pernah berhubungan seksual. Dari aspek medis, menurut Dr. Budi Martino L., SPOG, seks bebas memiliki banyak konsekwensi misalnya, penyakit menular seksual,(PMS), selain juga infeksi, infertilitas dan kanker. Tidak heranlah makin banyak kasus kehamilan pranikah, pengguguran kandungan, dan penyakit kelamin maupun penyakit menular seksual di kalangan remaja (termasuk HIV/AIDS).

Di Denpasar sendiri, menurut guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, per November 2007, 441 wanita dari 4.041 orang dengan HIV/AIDS. Dari 441 wanita penderita HIV/AIDS ini terdiri dari pemakai narkoba suntik 33 orang, 120 pekerja seksual, 228 orang an baik. Karena keadaan wanita penderita HIV/AIDS mengalami penurunan sistem kekebelan tubuh menyebabkan 20 kasus HIV/AIDS menyerang anak dan bayi yang dilahirkannya.

Tindakan remaja yang seringkali tanpa kendali menyebabkan bertambah panjangnya problem sosial yang dialaminya. Menurut WHO, di seluruh dunia, setiap tahun diperkirakan sekitar 40-60 juta ibu yang tidak menginginkan kehamilan melakukan aborsi. Setiap tahun diperkirakan 500.000 ibu mengalami kematian oleh kehamilan dan persalinan. Sekitar 30-50 % diantaranya meninggal akibat komplikasi abortus yang tidak aman dan 90 % terjadi di negara berkembang termasuk Indonesia.


Analisa Penggagas Kespro, solutifkah
Menurut penggagas kespro, masa depan dunia sangat tergantung pada kondisi sehat tidaknya organ reproduksi remaja. Kehamilan yang tidak diinginkan akan mendorong ibu untuk melakukan tindakan pengguguran (aborsi). Data WHO, setiap tahun 15 juta remaja mengalamii kehamilan dimana 60 %-nya berupaya mengakhirinya. Tetapi ketika mengambil keputusan untuk mengakhiri kehamilan di dalam lingkungan dimana pengguguran masih dilarang atau sukar didapat, akan mendorong mereka melakukan unsafe abortion. Hal ini menyebabkan komplikasi akibat aborsi tidak aman berupa perdarahan, infeksi pasca aborsi bahkan sepsis yang dapat menyebabkan kematian. Disisi lain, pengetahuan remaja tentang resiko melakukan hubungan seksual masih sangat rendah karena kurangnya informasi mengenahi seksualitas dan reproduksi. Keadaan ini menjadi alasan pentingnya membentuk wadah konsultasi remaja yang akan mengarahkan remaja untuk tidak melakukan hubungan seks atau berkata tidak kepada pasangannya, dan memberi layanan untuk pencegahan kehamilan serta kehamilan tidak diinginkan.

Gagasan kespro ini, menurut Tini Hadad (ketua Yayasan Kesehatan Perempuan) dilatarbelakangi oleh banyaknya angka kematian ibu dan bayi, juga banyaknya kasus-kasus pelanggaran hak reproduksi perempuan seperti kasus perkosaan dalam perkawinan, perjodohan, larangan aborsi, pelecehan seksual, penyiksaan, paksaan terhadap penggunaan alat-alat kontrasepsi, tidak adanya akses mudah terhadap masalah kesehatan reproduksi, dan berbagai bentuk diskriminasi yang menomorduakan kedudukan perempuan.

Gagasan kespro ini pertama kali dipopulerkan oleh International Conference On Population and Development (ICPD)/ Konferensi International Kependudukan dan Pembangunan yang berlangsung 5-13 September 1994 di Kairo. Hal ini dapat dilihat dari 4 kerangka tujuan ICPD:

Tujuan agar setiap kegiatan seks harus bebas dari paksaan serta berdasarkan pilihan yang dipahami dan bertanggung jawab.

Setiap tindakan seks harus bebas dari infeksi. Diantaranya dengan kondomisasi bagi yang aktif secara seksual dengan lebih dari satu pasangan.

Setiap kehamilan dan persalinan harus diinginkan.

Setiap kehamilan dan persalinan harus aman.

Elemen-elemen kespro di Indonesia, menurut Departemen Kesehatan tahun 1995, adalah keluarga berencana, kesehatan ibu dan anak, penanggulangan infeksi saluran reproduksi dan HIV/AIDS. Hanya saja, penerapan elemen kespro ini membawa semangat ICPD yang penuh dengan nuansa kebebasan dalam mengagungkan hak reproduksi perempuan. Misalnya, dalam elemen KB, seorang istri berhak memutuskan kapan memakai alat kontrasepsi dan menghindari kehamilan tanpa persetujuan suami. Seorang perempuan berhak untuk menggugurkan kehamilan hasil perselingkuhannya jika dia merasa tidak nyaman dengan kehamilannya. Perempuan bebas melakukan kegiatan seks berdasarkan pasangan pilihannya, baik pasangan sah atau bukan, asalkan bertanggung jawab dan paham atas resikonya.

Definisi reproduksi menurut mereka adalah keadaan yang menunjukkan kondisi kesehatan fisik, mental dan sosial yang dihubungkan dengan fungsi dan proses reproduksi. Sasaran program ini tentunya bukan hanya perempuan yang menikah tetapi remaja putri juga harus memahami konsep kespro ini. Oleh karena itu, Pendidikan seks bagi remaja menjadi program yang harus direalisasikan. Tak hanya dari orang tua, tetapi juga pendidikan di sekolah. Pengetahuan remaja tentang seks masih sangat kurang. Faktor ini ditambah dengan informasi keliru yang diperoleh dari sumber yang salah, seperti mitos seputar seks, VCD porno, situs porno di internet, dan lainnya akan membuat pemahaman dan persepsi anak tentang seks menjadi salah. Tujuan dari pendidikan seks ini adalah agar remaja menyadari bahwa pemegang kendali utama tubuh kita adalah diri kita sendiri bukan orang tua, pacar, atau teman dari berbagai paksaan yang menyangkut tubuh dan jiwa kita.

Pada faktanya, pelaksanaan pendidikan seks pada remaja justru memarakkan seks bebas itu sendiri. Bagaimana tidak, program pendidikan seksual yang komprehensif tidak hanya mencakup fakta-fakta biologis, tapi juga menyuguhkan informasi dan ketrampilan praktis kepada para pemuda mengenahi soal berkencan, hubungan seks, dan penggunaan kontrasepsi. Di Indonesia sendiri, pemerintah mengeluarkan kebijakan pendidikan kespro melalui penyuluhan dan seminar oleh BKKBN, buku saku dan dirumuskan dalam kurikulum formal maupun non formal. Dari segi muatan (materi) yang memberikan gambar dan penjelasan vulgar, provokatif (keinginan untuk mencoba), serta tidak tepat sasaran (lebih tepat untuk pasutri). Tidak aneh, jika di Amerika sendiri, remaja belum menikah yang aktif melakukan kegiatan seks dan menggunakan alat kontrasepsi lebih besar dari pada yang menikah.

Begitu juga dengan program kondomisasi, didasarkan pada 'niat suci' untuk memberantas HIV/AIDS. Di Bogor Jawa Barat, misalnya, bertepatan dengan hari AIDS se-dunia pemerintah membagi-bagikan kondom gratis. Sebanyak 282 boks kondom dibagi-bagikan secara gratis oleh Dinas Kesehatan bekerja sama dengan Global Pants serta Dinas Kesehatan dan Kebudayaan kota Bogor kepada hotel-hotel losmen serta wisma. Pemerintah juga mendirikan sejumlah ATM kondom yang disebar di beberapa daerah di kota-kota besar. Namun solusi ini justru memicu permasalahan lain yang lebih besar berupa maraknya perzinahan di kalangan remaja, prostitusi remaja, serta menjamurnya tempat hiburan dan diskotik.



Konsep Kespro Dalam Islam

Islam adalah agama yang sempurna. Islam datang sebagai pedoman yang menyelesaikan segala persoalan kehidupan manusia termasuk di dalamnya dengan masalah kesehatan. Terciptanya kondisi sehat secara fisik dan jiwa sangat terkait dengan faktor lain yaitu pandangan hidupnya. Jauh sebelum kita membicarakan apa dampak seks bebas dan bagaiaman solusinya, Islam mengajarkan konsep filosofi hidup yang benar yaitu keyakinan kuat menempatkan Alloh sebagai pencipta dan pengatur hidup manusia. Dia melengkapi hidup kita dengan seperangkat aturan yang terbaik yaitu islam. Inilah konsep hidup yang benar & harus ditanamkan pada remaja.

Pergaulan bebas adalah merupakan bentuk pelanggaran terhadap aturan Alloh yang sangat memuliakan pola hubungan dan interaksi antara laki-laki dan perempuan. Alloh menjunjung tinggi kehormatan perempuan dengan menghalalkan organ reproduksinya hanya melalui satu pintu yaitu pernikahan. Pernikahan bertujuan untuk melahirkan keturunan dan melestarikan jenis manusia (QS. Annisa [4]:1; QS an-Nahl [16]: 72 dan Islam melarang perbuatan zina. Pernikahan merupakan bentuk kontrol reproduksi perempuan bukan sebagai bentuk penjajahan atas kebebasan perempuan. Dengan menikah perempuan akan lebih dimuliakan karena kemampuannya untuk hamil, melahirkan dan memenuhi hak pengasuhan terhadap anak-anaknya. Inilah fitrah perempuan dan ketika menjalani sesuai fitrah ini akan mendatangkan ketenangan hidup dan terjaga kemuliaannya. Sebaliknya, ketika manusia melakukan pelanggaran, akan mendatangkan kemadharatan yang menghancurkan kehidupannya sendiri.

Hubungan seks di luar pernikahan menunjukkan tidak adanya rasa tanggung jawab dan memunculkan rentetan persoalan baru yang menyebabkan gangguan fisik dan psikososial manusia. Bahaya tindakan aborsi, menyebarnya penyakit menular seksual, rusaknya institusi pernikahan, serta ketidakjelasan garis keturunan. Kehidupan keluarga yang diwarnai nilai sekuleristik dan kebebasan hanya akan merusak tatanan keluarga dan melahirkan generasi yang terjauh dari sendi-sendi agama.

Islam tidak menganggap seks sebagai satu-satunya tujuan pernikahan. Namun terciptanya keturunan merupakan aspek terpenting dalam pernikahan. Kehidupan keluarga mengajarkan seseorang agar bertanggung jawab, mengasihi dan mencintai anggota keluarga, berbagi, dan saling memperhatikan. Keluarga ini yang mampu melahirkan generasi bertaqwa. Cinta yang ditimbulkan antara suami-istri akan berkembang menjadi cinta bagi keturunan yang menyebarkan rahmat bagi semesta alam.

”Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan. Barang siapa yang mengikuti langkah syetan, maka sesungguhnya dia (syetan) menyuruh perbuatan yang keji dan mungkar. Kalau bukan karena karunia Alloh dan Rahmat-Nya kepadamu, niscaya tidak seorang pun diantara kamu bersih dari perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Alloh membersihkan siapa yang dikehendaki... (An-Nuur (24):21)

Dari paparan di atas betapa bahanyanya budaya seks bebas di kalangan remaja, tidak hanya pada remaja itu sendiri tetapi juga pada lingkungan sosial masyarakat. Islam sebagai agama yang paripurna telah mengatur dengan begitu mulianya pemenuhan kebutuhan seksual manusia. Oleh karena itu sebagai orang tua atau tenaga pendidik perlu untuk mengkaji lebih lanjut cara yang benar dalam Islam dalam memberikan pendidikan seks kepada remaja, termasuk juga mengenalkan kesehatan reproduksi yang bijak dan benar sehingga siap menjadi orangtua yang mendidik generasi unggulan. Bukankah demikian.........

Kesehatan Reproduksi Wanita

Konsep Pemikiran Tentang Kesehatan Reproduksi Wanita

Pembangunan kesehatan bertujuan untuk mempertinggi derajat kesehatan masyarakat. Demi tercapainya derajat kesehatan yang tinggi, maka wanita sebagai penerima kesehatan, anggota keluarga dan pemberi pelayanan kesehatan harus berperan dalam keluarga, supaya anak tumbuh sehat sampai dewasa sebagai generasi muda. Oleh sebab itu wanita, seyogyanya diberi perhatian sebab :

1. Wanita menghadapi masalah kesehatan khusus yang tidak dihadapi pria berkaitan dengan fungsi reproduksinya

2. Kesehatan wanita secara langsung mempengaruhi kesehatan anak yang dikandung dan dilahirkan.

3. Kesehatan wanita sering dilupakan dan ia hanya sebagai objek dengan mengatas namakan “pembangunan” seperti program KB, dan pengendalian jumlah penduduk.

4. Masalah kesehatan reproduksi wanita sudah menjadi agenda Intemasional diantaranya Indonesia menyepakati hasil-hasil Konferensi mengenai kesehatan reproduksi dan kependudukan (Beijing dan Kairo).

5. Berdasarkan pemikiran di atas kesehatan wanita merupakan aspek paling penting disebabkan pengaruhnya pada kesehatan anak-anak. Oleh sebab itu pada wanita diberi kebebasan dalam menentukan hal yang paling baik menurut dirinya sesuai dengan kebutuhannya di mana ia sendiri yang memutuskan atas tubuhnya sendiri.

Definisi Kesehatan Reproduksi Wanita.

Berdasarkan Konferensi Wanita sedunia ke IV di Beijing pada tahun 1995 dan Koperensi Kependudukan dan Pembangunan di Cairo tahun 1994 sudah disepakati perihal hak-hak reproduksi tersebut. Dalam hal ini (Cholil,1996) menyimpulkan bahwa terkandung empat hal pokok dalam reproduksi wanita yaitu :

  1. Kesehatan reproduksi dan seksual (reproductive and sexual health)
  2. Penentuan dalam keputusan reproduksi (reproductive decision making)
  3. Kesetaraan pria dan wanita (equality and equity for men and women)
  4. Keamanan reproduksi dan seksual (sexual and reproductive security)

Adapun definisi tentang arti kesehatan reproduksi yang telah diterima secara internasional yaitu : sebagai keadaan kesejahteraan fisik, mental, sosial yang utuh dalam segala hal yang berkaitan dengan sistim, fungsi-fungsi dan proses reproduksi. Selain itu juga disinggung hak produksi yang didasarkan pada pengakuan hak asasi manusia bagi setiap pasangan atau individu untuk menentukan secara bebas dan bertanggung jawab mengenai jumlah anak, penjarakan anak, dan menentukan kelahiran anak mereka.

Indikator Permasalahan Kesehatan Reproduksi Wanita.

Dalam pengertian kesehatan reproduksi secara lebih mendalam, bukan semata-mata sebagai pengertian klinis (kedokteran) saja tetapi juga mencakup pengertian sosial (masyarakat). Intinya goal kesehatan secara menyeluruh bahwa kualitas hidupnya sangat baik. Namun, kondisi sosial dan ekonomi terutama di negara-negara berkembang yang kualitas hidup dan kemiskinan memburuk, secara tidak langsung memperburuk pula kesehatan reproduksi wanita.

Indikator-indikator permasalahan kesehatan reproduksi wanita di Indonesia antara lain:

  1. Jender, adalah peran masing-masing pria dan wanita berdasarkan jenis kelamin menurut budaya yang berbeda-beda. Jender sebagai suatu kontruksi sosial mempengaruhi tingkat kesehatan, dan karena peran jender berbeda dalam konteks cross cultural berarti tingkat kesehatan wanita juga berbeda-beda.
  2. Kemiskinan, antara lain mengakibatkan:
    • Makanan yang tidak cukup atau makanan yang kurang gizi
    • Persediaan air yang kurang, sanitasi yang jelek dan perumahan yang tidak layak.
    • Tidak mendapatkan pelayanan yang baik.
  3. Pendidikan yang rendah.

Kemiskinan mempengaruhi kesempatan untuk mendapatkan pendidikan. Kesempatan untuk sekolah tidak sama untuk semua tetapi tergantung dari kemampuan membiayai. Dalam situasi kesulitan biaya biasanya anak laki-laki lebih diutamakan karena laki-laki dianggap sebagai pencari nafkah utama dalam keluarga. Dalam hal ini bukan indikator kemiskinan saja yang berpengaruh tetapi juga jender berpengaruh pula terhadap pendidikan. Tingkat pendidikan ini mempengaruhi tingkat kesehatan. Orang yang berpendidikan biasanya mempunyai pengertian yang lebih besar terhadap masalah-masalah kesehatan dan pencegahannya. Minimal dengan mempunyai pendidikan yang memadai seseorang dapat mencari liang, merawat diri sendiri, dan ikut serta dalam mengambil keputusan dalam keluarga dan masyarakat.

  1. Kawin muda

Di negara berkembang termasuk Indonesia kawin muda pada wanita masih banyak terjadi (biasanya di bawah usia 18 tahun). Hal ini banyak kebudayaan yang menganggap kalau belum menikah di usia tertentu dianggap tidak laku. Ada juga karena faktor kemiskinan, orang tua cepat-cepat mengawinkan anaknya agar lepas tanggung jawabnya dan diserahkan anak wanita tersebut kepada suaminya. Ini berarti wanita muda hamil mempunyai resiko tinggi pada saat persalinan. Di samping itu resiko tingkat kematian dua kali lebih besar dari wanita yang menikah di usia 20 tahunan. Dampak lain, mereka putus sekolah, pada akhirnya akan bergantung kepada suami baik dalam ekonomi dan pengambilan keputusan.

  1. Kekurangan gizi dan Kesehatan yang buruk.

Menurut WHO di negara berkembang terrnasuk Indonesia diperkirakan 450 juta wanita tumbuh tidak sempurna karena kurang gizi pada masa kanak-kanak, akibat kemiskinan. Jika pun berkecukupan, budaya menentukan bahwa suami dan anak laki-laki mendapat porsi yang banyak dan terbaik dan terakhir sang ibu memakan sisa yang ada. Wanita sejak ia mengalami menstruasi akan membutuhkan gizi yang lebih banyak dari pria untuk mengganti darah yang keluar. Zat yang sangat dibutuhkan adalah zat besi yaitu 3 kali lebih besar dari kebutuhan pria. Di samping itu wanita juga membutuhkan zat yodium lebih banyak dari pria, kekurangan zat ini akan menyebabkan gondok yang membahayakan perkembangan janin baik fisik maupun mental. Wanita juga sangat rawan terhadap beberapa penyakit, termasuk penyakit menular seksual, karena pekerjaan mereka atau tubuh mereka yang berbeda dengan pria. Salah satu situasi yang rawan adalah, pekerjaan wanita yang selalu berhubungan dengan air, misalnya mencuci, memasak, dan sebagainya. Seperti diketahui air adalah media yang cukup berbahaya dalam penularan bakteri penyakit.

  1. Beban Kerja yang berat.

Wanita bekerja jauh lebih lama dari pada pria, berbagai penelitian yang telah dilakukan di seluruh dunia rata-rata wanita bekerja 3 jam lebih lama. Akibatnya wanita mempunyai sedikit waktu istirahat, lebih lanjut terjadinya kelelahan kronis, stress, dan sebagainya. Kesehatan wanita tidak hanya dipengaruhi oleh waktu.

Senin, 31 Mei 2010

capeeeee........

seharian bergelut dengan buku..............
fiuhhh,,,,,,,,,,cuapenya...............
bentar lg liburan mw refresing tgkat tggi euy ke bekasi nengok keponakan yg bru muncul di dunia....................
dunia maya ne mmbuat aq jd ngrasa beban jd mdgan nech,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
curhat ala anak gaul.......hehehe